Sejarah

Perjalanan terbentuknya organisasi

Sejarah berdirinya Forum Kahedupa Toudani (Forkani) berawal dari diskusi kecil dan tidak formal yang dilakukan hanya oleh beberapa orang saja. Saat itu, awal tahun 2000-an, wisatawan asing yang berkunjung di Pulau Hoga dan Kaledupa semakin meningkat. Hal ini membawa perubahan pada kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Kaledupa kala itu masih masuk dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Buton, karena Wakatobi baru mekar sebagai kabupaten pada tahun 2003.

Dalam waktu bersamaan, kapal ikan berlabuh di antara Pulau Hoga dan Pulau Kaledupa. Masyarakat dan pembudidaya rumput laut di sekitar Desa Buranga merasa terancam dengan kehadiran kapal tersebut. Hasil tangkapan nelayan berkurang, begitu juga dengan pembudidaya rumput laut di sekitar Desa Sombano, Buranga, dan Waduri yang semakin gagal panen. Hal ini membawa kerugian tidak sedikit bagi masyarakat yang saat itu mulai berpindah dari nelayan penangkap ikan menjadi pembudidaya rumput laut. Pada masa tersebut juga, sosialisasi zonasi Taman Nasional Wakatobi ditentukan tanpa melibatkan masyarakat, khusus nelayan.

Merespon berbagai permasalahan tersebut, para pendiri Forkani, Beloro, Edi, dan Maruji, yang juga merupakan pembudidaya rumput laut di, mulai mengorganisir masyarakat dan membentuk kelompok. Mereka berupaya membangun kesadaran bersama dan jejaring di pulau, karena gerakan secara kolektif akan membuat tekanan yang jauh lebih besar daripada bekerja sendiri. Mereka bersama-sama mendatangi kapal ikan tersebut untuk menanyakan izin berlabuh dan izin usaha kapal tersebut. 

Dari sinilah, mereka terus berkumpul untuk mendiskusikan tantangan yang dihadapi masyarakat Kaledupa ke depannya. Inisiatif membuat wadah bersama masyarakat pun muncul. Mereka bersepakat membentuk sebuah lembaga yang dapat menjadi forum bagi berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat Kaledupa nantinya. 

Tepat pada 25 Desember 2002, Forkani pun berdiri. Melalui forum ini, dengan swadaya anggota dan donasi tak mengikat dari berbagai pihak, Forkani mulai menggerakkan masyarakat melalui pertemuan rutin dari ke desa-desa. Pertemuan-pertemuan tersebut dimaksudkan untuk mendorong inisiatif agar masyarakat dapat berkarya secara berkelompok, baik kelompok nelayan, kelompok perempuan, maupun kelompok tani.

Hingga kini, setelah delapan belas tahun berdiri, kegiatan Forkani terus berkembang, dan menjalin berbagai kemitraan bersama sejumlah organisasi konservasi. Forkani memfasilitasi peningkatan kapasitas masyarakat dalam cara budidaya rumput laut yang baik, mengambil ikan dengan cara ramah lingkungan, pengawasan laut, kredit konservasi, membangun bank ikan, dan pengelolaan perikanan gurita. Semua kegiatan Forkani selalu berbasis masyarakat. Forkani juga berupaya menghidupkan peran adat dalam pengelolaan sumber daya alam di Wakatobi, dan mengawal ekowisata yang dilakukan masyarakat Kaledupa.